News

Rumah Makan Gratis Ciwidey, Niat Nuke Wikartaatmadja Awalnya Bantu Buruh Tani


Ia prihatin melihat buruh tani di Ciwidey hanya makan nasi dan garam.

Dream – Saung atau rumah panggung peristirahatan itu berada di atas kolam ikan Nila. Saung itu berada di Kampung Pasir Mala, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Kawasan Ciwidey berada di dataran tinggi, 1.500 dampai 2.000 meter di atas permukaan laut. Suhunya cukup sejuk, 16-22 derajat Celcius. Kecamatan ini terletak 35 km di sebelah selatan Kota Bandung, atau sekitar 15 km dari Soreang, ibukota Kabupaten Bandung.

Ciwidey terkenal sebagai kawasan pertanian dan perkebunan. Dan,  memang, di sekeliling saung itu sejauh mata memandang terhampar bukit ladang dan sawah yang luas. Di dekat dekat pagar saung itu, sebuah spanduk bertulis “ Rumah Makan Gratis Ciwidey” terpasang.

Masuk ke dalam saung ukuran 3 kali 2 meter itu, tumpukan piring dan sendok rapi tertata di atas meja. Begitu juga dengan gelas. Tapi yang mengiurkan adalah hidangannya.

Hari itu sebakul nasi hangat tersedia. Di sebelahnya baskom besar berisi opor ayam. Lalu di sebelahnya ada piring kaca ukuran besar berisi sambal kentang hati. Lalu di sebelahnya ada kerupuk udang dalam dua tempat plastik besar.

Itulah makanan yang disediakan pada hari itu di Rumah Makan Gratis Ciwidey. Makanan itu disediakan untuk 150 orang. Cukup melimpah dan membuat air liur menetes.

Rumah Makan Gratis Ciwidey memang menyediakan makanan secara gratis. Terutama untuk buruh tani atau petani penggarap di Ciwidey. Sebab, kebanyakan tanah di Ciwidey dimiliki oleh orang Jakarta atau Bandung. Jarang sekali petani di sana memiliki tanah. Umumnya mereka bekerja dengan cara bagi hasil dengan pemilik tanah. Itulah sebabnya penghasilan petani di sana amat minim. Kalau tidak bisa dibilang amat miskin.

Para buruh tani dan petani penggarap itu biasa hanya membekali diri dengan nasi, sambal dan buah tomat untuk makan siang di sawah. Atau terkadang nasi, sambal, dan petai. Itu saja lauk mereka. Mereka jarang sekali makan dengan lauk walaupun lauk sederhana. Banyak juga yang makan hanya dengan nasi diberi air putih lalu cuma berlauk garam.

“ Kondisi buruh tani yang kekurangan itulah yang menggerakkan hati saya untuk membuka rumah makan gratis,” kata pendiri rumah makan gratis Ciwidey, Nuke Wikartaatmadja, saat dihubungi Dream.co.id pekan lalu.

Maka, sejak April 2021, atau setahun lalu, wanita yang kerap disapa Mbak Nuke ini mulai membuka rumah makan gratis Ciwidey di saung peningalan orang tuanya. Dalam sehari dia bisa menyiapkan 150 porsi makanan. Dan semuanya gratis.

***

Nuke Wikartaatmadja atau biasa disapa Mbak Nuke lahir di Bandung, 5 Juli 1973. Sekarang usianya 49 tahun. Suaminya seorang wiraswasta bernama Ade Rusmana, 49 tahun.

Ia memiliki dua anak hasil pernikahannya. Dua-duanya laki-laki. Yang pertama bernama Kristiawan Rusmana usianya  sudah 25 tahun dan sekarang bekerja di Mola TV, dan merupakan lulusan Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran. Sedang anak yang kedua bernama Deffa Imadudin Rusmana, baru selesai SMA dan berusia 17 tahun.

Nuke, suami dan dua anaknya© koleksi pribadi

(Nuke, suami dan dua anaknya/koleksi pribadi)

Nuke menuturkan, sebelum pandemi dia bekerja di Yayasan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) milik ayahnya. Selain itu dia juga  punya usaha katering dan penjualan kue.  Inilah rutinitas harian dia sebelum pandemi.

Saat sebelum pandemi, omzet penjualan kue Nuke bisa mencapai Rp 50 juta karena bisa membuat 5.000 dus dengan harga Rp 10 ribu per dus. Tapi rata-rata sehari dia biasa menjual sekitar 100-700 dus.

Kalau bisnis katering, Nuke hanya meneruskan usaha ibunya. Dalam sebulan omzet bisnis katering bisa tembus Rp 10 juta lebih.

Saat menjalankan bisnis sebelum pandemi, dia tinggal di rumahnya di Komplek Margahayu, Kopo, Kota Bandung.

Akibat pandemi, semua bisnis Nuke mati.  Itu terjadi karena sekolah tempat Nuke memasok kue pada Desember 1999 ada yang terpapar Covid-19. Sehingga sekolah ditutup dan bisnis kue Nuke  juga terpaksa tutup.

Tak hanya bisnis dan pekerjaan Nuke yang mati akibat pandemi, begitu juga bisnis suaminya. Suami dia pernah berkerja di Indosat, lalu berhenti dan memilih membuka usaha sendiri untuk bisnis Tower. Tapi usaha ini juga tutup saat pandemi.

Saat semua bisnis tutup, di awal pandemi Nuke lalu memilih mengungsi ke Ciwidey. Jarak antara Ciwidey dengan rumahnya di Bandung sekitar 30 Km. Di sana dia tinggal di saung milik orangtuanya di  Kampung Pasir Mala, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Di Ciwidey ayahnya memang memiliki saung, atau rumah panggung peristirahatan yang cukup luas. Dulu Nuke dan keluarga biasa datang ke sana untuk berwisata. Tapi paling lama sehari.

Karena pandemi, dia memilih mengungsi ke Ciwidey dalam rangka menghindari Covid-19. Karena Ciwidey merupakan daerah pegunungan dan pedesaan, sehingga jarang bertemu orang. Udaranya juga segar dan dingin. Jadi ini semacam tempat pelarian Nuke dan keluarga  dari kota Bandung agar tidak terpapar Covid-19.

Lalu saat ke Ciwidey, Nuke awalnya hanya membawa baju sehari. Tapi karena betah, dia akhirnya membawa baju satu koper dan menetap lama.

Ketika di Ciwidey, Nuke kerap bertemu dengan penduduk yang umumnya merupakan petani sayur. Mereka adalah petani tak bertanah. Tanah di Ciwidey kebanyakan dimiliki orang Jakarta atau Bandung. Mereka hanya bekerja di sana dengan cara bagi hasil. Bisa dibilang kebanyakan mereka adalah buruh tani atau petani penggarap dengan cara bagi hasil.

Saat tinggal di Ciwidey, Nuke melihat banyak sayur-sayuran yang terbuang percuma. Misalnya wortel yang ukurannnya kecil atau bengkok, itu akan dibuang. Siapa pun yang mau bisa ambil wortel itu secara langsung. Kalau pun beli, beli Rp 5.000 sudah dapat banyak sekali.

Dari situ Nuke juga mulai berbicara dengan petani di sana. Ia bertanya apa bekal makan siang mereka saat di ladang? Mereka mengaku umumnya hanya membawa bekal nasi, sambal dan tomat. Atau kadang nasi, sambal dan petai. Itu saja. Tidak ada lauk atau sayur.

Karena mayoritas merupakan buruh tani atau petani penggarap, secara ekonomi kehidupan mereka memang susah. “ Bayangkan, untuk upah memetik cabai, mereka hanya dibayar Rp 5.000 saat mengumpulkan cabai seberat 10 kilogram. Padahal untuk mengumpulkan cabai sebanyak 10 kg, mereka harus bekerja selama dua hari,” kata Nuke.

Jadi, selama dua hari pendapatannya hanya Rp 5.000. Tak heran makan mereka begitu sederhana. Bahkan ada juga yang makan dengan menggunakan nasi, diberi air putih yang berfungsi sebagai kuah sayur, lalu dengan lauk garam.

Melihat dua kenyataan itu Nuke merasa  terenyuh. Di satu sisi, sayuran begitu berlimpah. Di sisi lain, banyak sekali petani penggarap yang makannya begitu sederhana. Di situ hati Nuke tergerak untuk memulai rumah makan gratis.

Dengan latar belakang bisnis katering, Nuke melihat sayang sekali banyak sayur yang terbuang. Padahal dengan sedikit kreatifitas, sayur itu bisa diolah menjadi makanan lezat dan banyak karena sumbernya berlimpah dan murah.

Jadi, dengan sayur yang begitu berlimpah, Nuke mulai memasak lebih banyak dari yang dibutuhkan keluarga. Dari kelebihan masakan rumah yang dia masak, dia mulai membagi-bagikan kepada petani penggarap saat mereka hendak pergi ke sawah.

Saat itu juga Nuke ingin membuka rumah makan gratis. Tapi dia sempat dilarang anaknya. Kata anak Nuke, merek atau hak cipta rumah makan gratis sudah dimiliki oleh Aidtya Prayoga, penggagas rumah makan gratis di Jakarta.

Nuke penasaran. Ia lalu mencari nomer telepon Aditya Prayoga. Setelah dapat, ia  pun menghubunginya. Nuke memberitahu Aditya masalah di Ciwidey, dan keinginannya untuk membuka rumah makan gratis.

Akhirnya tak hanya mendorong, Aditya Prayoga malah datang ke tempat Nuke di Ciwidey. Aditya lalu memberi beberapa masukan dan sejumlah kiat untuk mengelola rumah makan gratis agar bisa berjalan tiap hari. Salah satunya dengan membuat kartu nama.

Lewat kartu nama itu, Nuke lalu pergi ke pasar, ke bekas pedagang langganan dia. Nuke memberitahu pedagang langganannya sekarang dia  punya rumah makan gratis. Jadi kalau ada dari mereka punya bahan yang berlebih dan ingin menyumbang, Nuke akan menerima dan mengolahnya.

***

Maka, sejak bulan April 2021, mulailah Nuke resmi membuat rumah makan gratis Ciwidey. Awalnya mulai dari 30 porsi, lalu meningkat jadi 50 porsi, hingga sekarang 150 porsi per hari.

Nuke (berbaju kuning)© koleksi pribadi

(Nuke (berbaju kuning)/koleksi pribadi)

Memang, yang paling berat, kata Nuke, adalah biaya untuk beli beras. Tapi dari informasi yang Nuke dapat dari Aditya, dia lalu menghubungi  Gerakan Infak Beras (GIB) di Bandung.

Nuke katakan pada pengurus GIB bahwa dia punya rumah makan gratis tapi terkendala pada masalah beras. Oleh GIB, setiap bulannya Nuke lalu dikirim 100 kg beras setiap bulan. Meski demikian, setiap bulannya Nuke tetap saja harus membeli sendiri beras minimal 200 kg per bulan.

Ia besyukur sampai sekarang rumah makan gratis ini masih bisa berjalan. “ Saya tidak tahu dari mana rejekinya, tapi yang jelas saya tiap hari bisa tetap buka,” katanya.

Apalagi, Nuke  tidak membuka rekening donasi. Jadi praktis hanya teman-teman dekat yang biasa menitip uang untuk membantu Nuke. Juga dari keluarga. Dan terutama dari kantong pribadi Nuke.

“ Kenapa saya membuka rumah makan gartsi? Karena ada kepuasaan batin melihat wajah-wajah petani yang memakan makanan saya dengan lahap. Ini merupakan kebahagian terbesar saya,” tuturnya.

Kalau soal biaya, katanya, itu semua berasal dari Ilahi. Ia mengaku sampai sekarang tidak membuka rekening donasi, karena dia merasa malu. Tapi dia bersyukur, rumah makan gratis Ciwidey sampai hari ini tetap jalan dan bisa menyediakan 150 porsi makanan setiap harinya.

“ Kalau ditanya duitnya dari mana untuk membiayai ini semua, saya bingung jawabnya. Tapi biasanya ada saja. Semua dimudahkan oleh Tuhan,” katanya yakin.

Ia mengaku biasa berbelanja sebesar Rp 500 ribu-Rp 700 ribu perhari untuk 150 porsi. Belanja termahal itu untuk bumbu. Kalau untuk sayur dia bisa  dapat secara cuma-cuma atau kalaupun beli pun murah sekali.

Jadi, katanya, biaya sebulan untuk rumah makan gratis itu sekitar Rp 15 juta. Uang itu Nuke  dapat dari keluarga, teman, atau memakai uang Nuke sendiri. Kebetulan dia masih punya sedikit tabungan.

Setelah setahun berjalan tanpa donasi, Nuke meihat dia tidak bertambah miskin. “ Intinya saya tidak bertambah miskin dengan membuka rumah makan gratis,” tegasnya.

Ia mengaku Aditya Prayoga sudah memberitahu dia agar membuka rekening donasi. Tapi hati kecilnya merasa malu. Saat dia mau menulis di Instagram rumah makan gratis Ciwidey di @rmg.ciwidey,  dia tidak jadi menuliskannya. Karena merasa malu. Yang jelas, katanya, dia ingin hidupnya bermanfaat setiap hari pada banyak orang.

Kalau uangnya menipis, biasanya dia mengakali dengan mengurangi porsi yang dibagikan setiap hari. Misalnya dari 150 porsi, dia akan kurangi jadi 70 porsi supaya bisa digunakan untuk dua hari. Begitu cara dia mensiasatinya. Yang penting tiap hari harus buka.

Ia biasa membuka rumah makan gratis jam 10 pagi sebelum petani ke sawah. Biasanya nasi, sayur dan lauk dia  bungkus sebanyak 150 bungkus. Biasanya akan habis dalam tempo setengah jam. Sisanya akan dia taruh di masjid yang berada di sebelah saung rumah makan gratis yang didirikan keluarganya.

Lauk yang disediakan Rumah Makan Gratis Ciwidey© koleksi pribadi

(Lauk yang disediakan Rumah Makan Gratis Ciwidey/koleksi pribadi)

Terkadang dia juga membuat dengan cara prasmanan. Menghidangkan berbagai menu untuk sarapan pagi. Mereka kemudian makan dulu sebelum berangkat ke sawah. Tak sampai sejam biasanya habis.

Saat Ramadan seperti sekarang, Nuke buka dua kali. Pertama saat sahur, dia menyediakan sayur dan lauk. Untuk 50 porsi, yang diberikan kepada tetangga-tetangga terdekat. Alasannya karena banyak yang sahur hanya dengan nasi diberi air putih dan garam. Jadi dengan demikian, masalah sahur dan lauk bisa terpecahkan. Untuk sahur dia biasa menyediakan sejak jam 3.30 pagi.

Sementara untuk buka puasa, Nuke juga membuat nasi bungkus  sekitar 60 porsi. Ia  akan buka dapur pada jam 17.00 WIB. Ia  juga membuatkan takjil yang ditaruh di masjid yang berada di sebelah saungnya. Dan ini pun cepat habis.

“ Yang jelas apa yang saya makan di rumah, lauknya sama dengan apa yang ada di rumah makan gratis,” tutur Nuke.

Jadi boleh dibilang bahan-bahan rumah makan gratis, kata Nuke, kelas premium, karena sama dengan yang Nuke dan keluarga makan di rumah. Ia tak pernah membeda-bedakan apa yang dia makan di rumah dan apa yang dia bagikan. Semuanya sama dengan makanan di rumah.

Ia mengaku akan tetap berusaha membuka rumah makan gratis ini selama dia sehat. Selama dia mampu untuk buka. Sungguh sebuah tekad yang mulia. (eha)





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close