TV

Review Ambulance: Jadi Perampok Demi Istri


Jakarta

Kalau Anda familier dengan film-film Michael Bay, Anda mungkin bisa membayangkan bagaimana film Ambulance dengan mata terpejam. Anda bisa membayangkan laki-laki ekstra macho yang selalu kompeten menggunakan senjata. Anda bisa membayangkan gerakan kamera yang liar berputar-putar tanpa kendali. Jangan lupakan mobil berterbangan di udara. Sesekali ledakan. Mobil-mobil mewah. Dan tentu saja karakter perempuan yang selalu kelihatan seksi dan cantik, tidak peduli seberapa pun genting situasinya. Ambulance memberikan semua itu dan lebih.

Karakter utamanya adalah kakak beradik, Will (Yahya Abdul-Mateen II) dan Danny (Jake Gyllenhaal). Kalau Will adalah mantan veteran yang baik dan sedang butuh uang cepat untuk operasi istrinya yang luar biasa mahal, Danny adalah kriminal kelas kakap. Danny bahkan sudah sibuk menjadi kriminal ketika dia masih remaja. Ketika orang lagi kepepet butuh uang, dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan uang tersebut. Apalagi kalau uang tersebut akan digunakan untuk kepentingan istri. Dan itulah sebabnya Will mau-mau saja untuk ikut Danny merampok bank.

Kemudian ada Cam (Eiza Gonzales), seorang petugas ambulans yang terkenal jago tapi tidak disukai oleh banyak rekan kerjanya karena dia kelihatan tidak ramah. Cam tidak ada waktu untuk bermain-main. Dan ketika dia mendengar ada ledakan dan bunyi tembakan di bank, dia pun langsung datang berusaha untuk menyelamatkan polisi yang tertembak. Tentu saja akhirnya ambulans yang ditumpangi Cam dibajak oleh Danny dan Will. Dan ini hanyalah awal dari aksi kejar-kejaran yang seperti tidak ada ujungnya.

Michael Bay adalah salah satu sutradara Hollywood yang tidak hanya rajin bikin film tapi mempunyai gaya yang sangat khas. Soal kualitas, ada perdebatan panjang soal ini. Ada yang bagus (The Rock, Independence Day, Bad Boy, Transformers). Ada yang lumayan (Pearl Harbor, The Island, Bad Boys II, Transformers: Revenge of the Fallen, Pain and Gain, 13 Hours, 6 Underground). Ada juga yang bikin sakit kepala (semua Transformers yang belum kesebut). Beda orang, daftar ini akan berbeda. Tapi kebanyakan penonton akan setuju akan satu hal: film-film Michael Bay tidak ada yang membosankan.

Ambulance, yang diadaptasi oleh Chris Fedak dari film Denmark berjudul sama, sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi sebuah film aksi yang menarik. Di atas kertas, semua yang dibutuhkan Michael Bay untuk menjadikan film ini seru sudah ada dari premisnya. Sebuah kejar-kejaran tanpa henti dari awal sampai akhir film. Sayangnya hasilnya jauh dari seru atau menegangkan. Kalau Anda membayangkan Ambulance seseru Speed, Anda akan siap-siap kecewa.

Karakter-karakternya tidak ada yang menarik untuk diikuti. Danny dan Will bisa dimainkan siapa saja dan mereka akan tetap anyep karena karakter mereka setipis itu. Selain durasinya kelamaan dan editing-nya bikin sakit kepala (Michael Bay seperti ganti shot setiap empat detik sekali), pembuat film ini sama sekali tidak ada niatan untuk memberikan kejutan yang membuat adegan kejar-kejarannya menjadi agak sedikit lebih seru. Adegan operasi di tengah-tengah kejar-kejaran memang cukup membuat suasana menjadi lebih menarik tapi itu pun diselesaikan dengan sangat mudah.

Michael Bay tidak hanya gagal mengatur suspense yang sangat dibutuhkan Ambulance untuk menjadi film aksi yang menggigit, tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya untuk berhenti memasukkan semua drone shot yang ada di dunia ini. Sekali dua kali untuk memberikan efek dramatis boleh-boleh saja. Tapi dalam Ambulance, Michael Bay melakukan ini hampir setiap lima menit sekali dan hasilnya adalah kebingungan karena shot-shot tersebut tidak pernah memberikan efek yang diinginkan selain membuat sakit kepala.

Selama ini Michael Bay sering sekali dikritik karena ia memasukkan komedi di saat-saat yang genting yang akhirnya mengendurkan tensi (lihat Armageddon dan Transformers pertama). Dalam Ambulance, dia mengurangi hal tersebut dan ternyata hasilnya malah membuat film ini semakin hambar. Ada beberapa jokes yang bermunculan tapi itu tidak membantu film ini untuk menjadi lebih menarik. Saking seriusnya Ambulance, film ini jadi lucu karena sepanjang film saya menertawakan keputusan-keputusan karakternya yang super ngoyo sementara filmnya gagal membuat saya terlibat dengan ketegangan yang diharapkan akan muncul.

Dengan durasi yang sangat lama (136 menit), Ambulance ternyata tidak seseru film Michael Bay sebelumnya yang hadir di Netflix (6 Underground). Film ini justru terasa seperti parodi film-film dia sebelumnya (lengkap dengan becandaan soal dua film legendarisnya di dalam film). Kalau sebelum-sebelumnya banyak orang mengkritisi Michael Bay karena filmnya hampa dan kosong, tunggu sampai Anda menonton Ambulance. Di tengah-tengah film, Anda mungkin berharap tiba-tiba ada robot Transformers muncul.

Ambulance dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close